Jurnal Inovasi Pangan dan Gizi
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JIPG
<p><strong><img src="/public/site/images/etyristanti/sampul_edit.jpg" width="154" height="213"></strong></p> <p><strong>Jurnal Inovasi Pangan dan Gizi (JIPG)</strong> provides a forum for publishing the novel technologies and knowledge related to the health sciences. This journal encompasses original research articles, review articles, and case study, including: Clinical Nutrition, Community Nutrition, Public Health Nutrition, Food Service Management, Food Science and Technology. JIPG is published by Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku and published periodically (twice a year) in July and January.</p> <p>ISSN XXXX-XXXX</p>Poltekkes Kemenkes Malukuen-USJurnal Inovasi Pangan dan Gizi0000-0000Pola Konsumsi Makanan dan Status Gizi Balita
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JIPG/article/view/764
<p>Masalah gizi pada balita masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan seperti Kota Ambon. Pola konsumsi makanan yang tidak seimbang berkontribusi terhadap terjadinya gizi kurang maupun risiko gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola konsumsi makanan dan status gizi balita di Posyandu Kahena Desa Batu Merah Kota Ambon. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel berjumlah 36 balita usia 6–59 bulan yang dipilih secara accidental sampling. Data pola konsumsi makanan dikumpulkan melalui food recall 3×24 jam, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan indikator berat badan menurut umur (BB/U) sesuai Standar Antropometri Anak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar balita memiliki status gizi normal (66,7%), namun masih terdapat balita dengan BB kurang hingga sangat kurang (27,7%) serta risiko BB lebih (5,6%). Pola konsumsi makanan belum optimal, ditandai dengan rendahnya konsumsi sayur dan buah serta masih adanya asupan energi dan zat gizi makro yang kurang. Kesimpulan penelitian ini menegaskan perlunya penguatan edukasi gizi dan pemantauan pertumbuhan balita secara berkelanjutan melalui Posyandu, dengan penekanan pada peningkatan keragaman pangan dan pemanfaatan pangan lokal.</p>Khartini KalukuSamsia SileuwMuhamad AsrarInamah Inamah
##submission.copyrightStatement##
2025-12-312025-12-3112839310.32695/jipg.v1i2.764Gambaran Asupan Zat Gizi Dan Kadar Hemoglobin Pada Anak Remaja Putri
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JIPG/article/view/774
<p><em>Hemoglobin is a component of red blood cells in the form of a conjugated protein that functions to transport oxygen and carbon dioxide. Hemoglobin can be used to determine whether someone is anemic or not by measuring hemoglobin levels. Decreased hemoglobin levels indicate a condition of anemia, namely anemia. Adolescent girls are at risk of anemia because they menstruate every month, thus requiring a large intake of iron. Irregular menstruation can be caused by stress factors, food consumption, physical activity, and genetic factors. An abnormal menstrual cycle causes adolescent girls to experience excessive bleeding during menstruation. This type of research is descriptive in nature, which aims to determine the description of nutritional intake and hemoglobin levels in adolescents at MTs Al-Muhajirin Ambon. The study was conducted in January 2025, located at MTs Al-Mahjirin Ambon. The sample in this study was 53 people, with a sampling method using accidental sampling. The variables in this study were protein intake, vitamin C, iron, and hemoglobin levels. Protein intake is less than <55% of the requirement, good at 55-65% of the requirement, and more than 65% of the requirement. Vitamin C intake is less than 77% of the RDA and sufficient at ≥77% of the RDA. Iron intake is less than 77% of the RDA or sufficient at ≥77% of the RDA. Anemia if hemoglobin is <11 gr/dL and not anemic if hemoglobin is >11 gr/dL. Intake data was collected by interviewing each teenager. Hemoglobin level data was collected using a digital HB test tool. The data collection instrument was an FFQ-semi-quantitative questionnaire. The results showed that respondents' protein intake was in the excess category, namely 69%; vitamin C intake was 88%; iron intake was sufficient, namely 66%; and not anemic as many as 58%.</em></p>Wahyuni SammengLia Aprilianti NaimaMichran MarsaolyInamah Inamah
##submission.copyrightStatement##
2025-12-312025-12-31129410310.32695/jipg.v1i2.774Daya Terima Sosis Kerang Bulu (Anadara antiquata) Dengan Penambahan Tepung Kulit Melinjo (Gnetum gnemon linn)
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JIPG/article/view/725
<p>Indonesia,an archipelagic country, has abundant marine resources, including feather mussels (Anadara antiquata) that are rich in protein, fatty acids, vitamins, and minerals. However, the use of mussels among the community is still limited to simple processing.One way to increase their economic value and consumption is through innovation in marine-based food products, such as mussel sausage.This study aims to develop mussel sausage by adding melinjo husk flour Gnetum gnemon Linn), a locally available ingredient rich in fiber and bioactive compounds. The research method used is descriptive, with three different formulations varying in the composition of mussels, melinjo husk flour, and wheat flour. Organoleptic tests were conducted to evaluate color,aroma, taste, and texture by 25 untrained panelists. The results showed that treatment A2B2C2 (100 g mussels, 50 g melinjo skin flour, 50 g wheat flour) had the highest overall acceptance with a total score of 12.74. This formulation was considered the most preferred in terms of aroma, taste, and texture. However, for color, the panelists preferred the A1B1C1 formulation (50 g of feather mussels, 75 g of melinjo husk flour, 75 g of wheat flour) due to its more appealing color. Therefore, it can be concluded that the development of feather mussel sausage with the addition of melinjo husk flour is well-received from an organoleptic perspective and has potential as an innovative food product utilizing local resources.</p> <p>Keywords: feather mussels, melinjo flour, sausage, organoleptic test, local food.</p>Octovina SoumokilTince Betty AmarduanSiti Mirja Bantan
##submission.copyrightStatement##
2025-12-312025-12-3112526310.32695/jipg.v1i2.725Inovasi Produk Mie Basah Berbasis Tepung Beras Merah: Kajian Sensorik
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JIPG/article/view/745
<p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"><strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;">Latar Belakang:</span></strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;"> Upaya diversifikasi pangan lokal menjadi strategi penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Beras merah memiliki kandungan serat, zat besi, dan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Pemanfaatannya sebagai bahan substitusi tepung terigu pada produk mie berpotensi menghasilkan inovasi pangan bergizi dan berbasis kearifan lokal.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"><strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;">Tujuan:</span></strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;"> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung beras merah terhadap karakteristik sensorik mie basah meliputi rasa, warna, tekstur, dan aroma.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"><strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;">Metode:</span></strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;"> Penelitian menggunakan desain eksperimental deskriptif dengan tiga perlakuan substitusi tepung beras merah terhadap tepung terigu, yaitu 15%, 25%, dan 35%. Uji sensorik dilakukan oleh 25 panelis agak terlatih menggunakan metode hedonik skala empat poin. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan rerata skor penilaian panelis.</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"><strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;">Hasil:</span></strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;"> Hasil menunjukkan bahwa peningkatan proporsi tepung beras merah menurunkan tingkat kesukaan panelis terhadap semua karakteristik sensorik. Perlakuan terbaik terdapat pada substitusi 15% (A1B1) dengan skor tertinggi pada rasa (3,52), warna (3,40), tekstur (3,48), dan aroma (3,36).</span></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 115%;"><strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;">Kesimpulan:</span></strong><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; line-height: 115%; font-family: 'Gadugi',sans-serif;"> Substitusi 15% tepung beras merah menghasilkan mie basah dengan mutu sensorik terbaik dan dapat dikembangkan sebagai produk pangan lokal bergizi, mendukung diversifikasi pangan dan pemberdayaan UMKM di Maluku.</span></p>Nilfar RuaidaAgustina SamadaraMichran MarsaolyInamah InamahKhartini Kaluku
##submission.copyrightStatement##
2025-12-312025-12-3112728210.32695/jipg.v1i2.745Analisis Kadar Air Tepung Ubi Jalar Putih (Ipomoea batatas L.) pada Tiga Metode Pengeringan
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JIPG/article/view/758
<p>Tepung ubi jalar putih mempunyai beberapa keunggulan dibanding tepung terigu, yaitu kandungan serat makanan yang tinggi disertai indeks glikemiks yang rendah. Ubi jalar (<em>Ipomoea batatas l</em>) termasuk salah satu bahan alternatif pangan karbohidrat non beras, yang memiliki banyak sekali manfaat dan juga gizi yang seimbang bagi kesehatan tubuh, ubi jalar memiliki 3 keunggulan hasil integrasi kualitas sereal kualitas sereal (pati tinggi), buah-buahan (kandungan vitamin dan pektin tinggi), dan sayuran (kandungan vitamin tinggi). dan kandungan mineral). Penurunan kadar air tepung sangat diperlukan karena dapat mempengaruhi umur simpannya. Kadar air yang tinggi akan memicu terjadinya aktivitas mikroorganisme dan reaksi-reaksi kimia yang membuat tepung menjadi cepat rusak sehingga terjadi penurunan mutu. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran kadar air tepung ubi jalar putih dengan menggunakan tiga variasi pengeringan.</p> <p>Metode peneitian : Jenis penelitian ini yaitu deskriptif yang bersifat eksperimental, dengan 3 metode pengeringan, sampel dalam penelitian ini adalah tepung ubi jalar putih. Dan dianalisis kadar air menggunakan oven dan timbangan. Hasil penelitian : menunjukkan bahwa hasil kadar tepung dari 3 pengeringan, yang sangat baik yaitu pengeringan sangrai. Dari hasil uji analisis kadar air pengeringan sinar matahari selama 2 hari, pengeringan oven dengan suhu 45°C, sedangkan sangrai dengan waktu 70 menit. Kesimpulan : Uji analisis kadar air tepung ubi jalar putih dengan pengeringan sinar matahari memiliki nilai 6, 04%, pengeringan oven memiliki nilai 3, 89%. pengeringan sangrai memiliki nilai 2,89%.</p>Junieni JunieniRahmi Juliastri WailissaWahyuni SammengKhartini Kaluku
##submission.copyrightStatement##
2025-12-312025-12-3112647110.32695/jipg.v1i2.758