Jurnal Keperawatan dan Inovasi Kesehatan (JKIK)
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JKIK
<p><img src="/public/site/images/akbar/cover-jkik-new1.jpg"></p> <p>JKIK adalah Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Diploma III Keperawatan Tual Poltekkes Kemenkes Maluku dengan fokus pada pengembangan keilmuan keperawatan dan kesehatan berbasis komunitas pesisir. JKIK menjadi platform untuk berbagi wawasan, hasil penelitian, dan praktik terbaik di bidang keperawatan dan kesehatan yang mencakup berbagai tema, seperti penelitian empiris dan solusi kreatif yang relevan dengan kebutuhan kesehatan wilayah pesisir.</p> <p><strong><em>Jurnal Keperawatan dan Inovasi Kesehatan </em></strong><strong>(JKIK) </strong>diterbitkan secara berkala oleh Poltekkes Kemenkes Maluku dua kali setahun.</p> <p>ISSN 3110-8598</p> <p> </p>Poltekkes Kemenkes Malukuen-USJurnal Keperawatan dan Inovasi Kesehatan (JKIK)3110-8598DUKUNGAN INTERAKSI SOSIAL DENGAN STIMULASI BICARA PADA ANAK TUNAGRAHITA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERSOSIALISASI DI PANTI ASUHAN BHAKTI LUHUR LANGGUR
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JKIK/article/view/843
Anak tunagrahita merupakan anak yang memiliki keterbatasan dalam hal perkembangan, fungsi intelektual dan kemampuan adaptasi sosial. Sehingga mengalami kesulitan berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dukungan interaksi sosial merupakan tindakan seseorang individu yang mempengaruhi individu lain sehingga anak dapat mengembangkan keterampilan bersosialisasi. Menurut data UNICEF tahun 2025 jumlah anak berkebutuhaan khusus (ABK) di dunia berjumlah 240 juta anak disabilitas dan 2,19 dengan presentasi 15% anak mengalami tunagrahita. Penelitian ini bertujuan untuk Menggambarkan efektivitas keperawatan dalam bentuk dukungan intraksi sosial dengan stimulasi bicara pada anak tunagrahita untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi di Panti Asuhan Bhakti Luhur Langgur. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan studi kasus data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Sampel berjumlah 20 anak dengan usia 6-12 tahun yang dilaksanakan pada bulan mei 2026. Instrumen yang digunakan adalah format dukungan interaksi sosial, lembar observasi. Setelah dilakukan dukungan interaksi sosial dengan stimulasi bicara selama 5 hari, Kemampuan berkomunikasi dengan teman meningkat dari 40% menjadi 80%. Kooperatif dalam bermain dengan teman sebaya meningkat dari 45% menjadi 40% . Menyapa orang lain dari 35% menjadi 75%. Menjalin hubungan sosial dari 39% menjadi 70%. Dan Kontak mata dalam bersosialisasi dari 40% menjadi 90%. Dukungan interaksi sosial dengan stimulasi bicara terbukti efektif dalam mengatasi hambatan interaksi sosial serta meningkatkan kemampuan bersosialisasi pada anak tunagrahita di Panti Asuhan Bhakti Luhur Langgur.Hilda NgilameleMaritje F PapilayaIvone A. V. Gasper
##submission.copyrightStatement##
2026-07-052026-07-052116REBUSAN KAYU MANIS TERHADAP STABILITAS KADAR GLUKOSA DARAH PADA KLIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OHOIRA
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JKIK/article/view/844
Diabetes mellitus (DM) tipe II merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat. Sehingga menyebabkan ketidakstabilan glukosa darah jangka panjang pada penderita dan dapat memicu komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti ilmiah mengenai penerapan rebusan kayu manis (<em>Cinnamomum burmannii</em>) sebagai terapi komplementer dalam menstabilkan kadar Gula Darah Sewaktu (GDS). Desain penelitian menggunakan studi kasus deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan yang dilaksanakan pada bulan Mei–Juni 2026 di Wilayah Kerja Puskesmas Ohoira, Kabupaten Maluku Tenggara. Sampel penelitian terdiri dari 20 penderita DM tipe II dewasa dengan kriteria inklusi nilai GDS awal >200 mg/dL. Tindakan yang diberikan berupa rebusan 2–3 batang kayu manis (1–3 gram) dalam 400 ml air hingga tersisa 200 ml, dikonsumsi sekali sehari selama 3 hari berturut-turut, dikombinasikan dengan aktivitas fisik ringan selama 10 menit pada hari kedua. Pemantauan kadar GDS diukur melalui <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em> harian, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren penurunan GDS yang konsisten pada seluruh sampel. Rerata GDS pada hari pertama menurun dari 250 mg/dL menjadi 220 mg/dL. Pada hari ketiga, seluruh sampel (100%) berhasil mencapai kadar GDS di bawah 200 mg/dL dengan rentang akhir 175–190 mg/dL, serta mencatat total rerata penurunan sebesar 60 mg/dL. Kesimpulannya, terapi rebusan kayu manis terbukti efektif secara klinis sebagai terapi komplementer berbasis bukti yang aman, ekonomis, dan layak diterapkan di pelayanan kesehatan primer.Maskuria Hayckal YunusMuhammad AmrullahLucky H. Noya
##submission.copyrightStatement##
2026-07-052026-07-0521711Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Pada Pasien Hipertensi Dalam Mengontrol Tekanan Darah Di Wilayah Kerja Puskesmas Ohoijang Watdek
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JKIK/article/view/840
Hipertensi merupakan kondisi medis kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara persisten di atas nilai normal sehingga meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular. Sebagai penyakit tidak menular, hipertensi masih menjadi masalah kesehatan global dengan angka morbiditas yang terus meningkat. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti nyeri kepala kepala, pusing dan nyeri kepala dada yang menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan yaitu relaksasi otot progresif. Teknik ini membantu menegangkan dan melemaskan otot secara bertahap sehingga dapat menurunkan tekanan darah dan mengontrol nyeri kepala. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan relaksasi otot progresif dalam mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Ohoijang Watdek, dengan pendekatan studi kasus berbasis intervensi keperawatan pada 20 pasien hipertensi dengan nyeri kepala dan peningkatan tekanan darah. Intervensi dilakukan 1 kali sehari selama 3 hari dengan durasi 5–10 menit. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan kondisi pasien setelah intervensi. Skala nyeri kepala sedang menurun dari 60% menjadi 25%, sedangkan nyeri kepala ringan meningkat dari 40% menjadi 75%. Pada tekanan darah, kategori hipertensi Grade I (>140/90 mmHg) menurun dari 50% menjadi 25%, sedangkan kategori >120/80 mmHg meningkat dari 15% menjadi 65%. Evaluasi menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif efektif dalam menurunkan nyeri kepala dan membantu menstabilkan tekanan darah pada pasien hipertensi.Marthina Claudia KadtabalubunYohanis Lefta
##submission.copyrightStatement##
2026-07-052026-07-05211217PERAWATAN TALI PUSAT MENGGUNAKAN KOMBINASI METODE DRY CORD CARE DAN EDUKASI TERSTRUKTUR DALAM PENCEGAHAN INFEKSI PADA NEONATUS DI RSUD KAREL SADSITUBUN LANGGUR
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JKIK/article/view/841
Tali pusat neonatus merupakan pintu masuk potensial mikroorganisme patogen karena sistem imun yang imatur. Perawatan tali pusat yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko infeksi tali pusat (omphalitis) yang masih menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas kombinasi metode dry cord care dan edukasi terstruktur terhadap kondisi tali pusat dan tingkat pengetahuan ibu dalam pencegahan infeksi pada neonatus di RSUD Karel Sadsitubun Langgur. Penelitian ini menggunakan one-group pretest-posttest desain deskriptif kuantitatif pada 25 neonatus usia 0–3 hari beserta ibu dan tenaga kesehatan yang terlibat. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kondisi tali pusat menggunakan instrumen REEDA termodifikasi, kuesioner pengetahuan ibu, serta dokumentasi asuhan keperawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh subjek mendapatkan perawatan dry cord care sesuai SOP yang dikombinasikan dengan edukasi terstruktur melalui demonstrasi dan leaflet. Pada hari pertama, 84% tali pusat dalam kondisi lembab dan 60% menunjukkan REEDA positif, serta 68% ibu berpengetahuan kurang. Setelah tiga hari implementasi, 92% neonatus menunjukkan tali pusat kering tanpa tanda infeksi (REEDA negatif), dan 92% ibu memiliki pengetahuan baik. Kombinasi dry cord care sesuai SOP dan edukasi terstruktur terbukti efektif dalam mencegah infeksi tali pusat sekaligus meningkatkan pengetahuan dan kemandirian ibu dalam merawat neonatus.Imakulata Nanda LefitarNotesya A Amanupunnyo
##submission.copyrightStatement##
2026-07-052026-07-05211821ACTIVE CYCLE OF BREATHING TECHNIQUE PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN (HIPERSEKRESI) DI RSUD KAREL SADSUITUBUN LANGGUR
https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com/index.php/JKIK/article/view/839
<p>Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis yang ditandai dengan hambatan aliran udara yang bersifat persisten dan tidak sepenuhnya reversibel sering, menimbulkan masalah gangguan sistem pernapasan (<em>hipersekresi</em>) akibat peningkatan produksi sekret. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sesak napas, bunyi napas tambahan, serta penurunan kemampuan ventilasi paru. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah tersebut adalah <em>Active Cycle of Breathing Technique</em> (ACBT). Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan ACBT dalam mengatasi gangguan sistem pernapasan (<em>hipersekresi</em>) pada pasien PPOK di RSUD Karel Sadsuitubun Langgur. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada 20 pasien PPOK yang mengalami gangguan sistem pernapasan (hipersekresi). Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan telaah rekam medis, kemudian dievaluasi sebelum dan sesudah intervensi ACBT selama tiga hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden mengalami takipnea (90%), bunyi napas tambahan (100%), kesulitan mengeluarkan sekret (55%), batuk tidak efektif (90%), dan sesak napas (80%). Setelah penerapan ACBT, sebanyak 80% responden mencapai frekuensi napas 21–23 kali per menit, 75% mengalami penurunan atau hilangnya bunyi napas tambahan, 75% mampu mengeluarkan sekret secara mandiri, 90% berhasil melakukan batuk efektif, dan 80% mengalami penurunan keluhan sesak napas. Temuan ini menunjukkan bahwa ACBT efektif membantu meningkatkan bersihan jalan napas, memperbaiki pola pernapasan, serta mengurangi gejala respirasi pada pasien PPOK. Intervensi ini berpotensi menjadi salah satu tindakan keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan secara rutin dalam asuhan keperawatan pasien PPOK.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: Active Cycle of Breathing Technique (ACBT), PPOK, hipersekresi, bersihan jalan napas tidak efektif, keperawatan.</p> <p><strong> </strong></p>Maikel Markus rahayaanJonathan KelaboraJohn Davison Haluruk
##submission.copyrightStatement##
2026-07-052026-07-05212227