Gambaran Pengetahuan dan Frekuensi Konsumsi Makanan Siap Saji pada Remaja
Abstract
Latar Belakang: Makanan siap saji (fast food) merupakan salah satu jenis makanan yang banyak dikonsumsi oleh remaja karena praktis, mudah diperoleh, dan memiliki cita rasa yang disukai. Namun, konsumsi makanan siap saji yang berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit tidak menular lainnya. Pengetahuan yang memadai mengenai makanan siap saji diharapkan dapat membantu remaja dalam memilih makanan yang lebih sehat dan bergizi seimbang.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan frekuensi konsumsi makanan siap saji pada remaja di SMAN 11 Ambon.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di SMAN 11 Ambon pada bulan April–Mei 2026. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII sebanyak 361 siswa. Sampel penelitian berjumlah 78 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan kuesioner berisi 12 pertanyaan pilihan ganda, sedangkan data frekuensi konsumsi makanan siap saji diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 17 tahun (47,4%) dan berjenis kelamin laki-laki (53,8%). Tingkat pengetahuan remaja tentang makanan siap saji sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 48 orang (61,5%), kategori cukup sebanyak 17 orang (21,8%), dan kategori baik sebanyak 13 orang (16,7%). Frekuensi konsumsi makanan siap saji menunjukkan bahwa 28 responden (35,9%) mengonsumsi makanan siap saji 3–6 kali per minggu, 24 responden (30,8%) mengonsumsi setiap hari, 17 responden (21,8%) mengonsumsi 1–2 kali per minggu, 7 responden (9,0%) mengonsumsi 1 kali per bulan, dan 2 responden (2,5%) tidak pernah mengonsumsi makanan siap saji.
Kesimpulan: Sebagian besar remaja di SMAN 11 Ambon memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai makanan siap saji dan frekuensi konsumsi makanan siap saji yang tergolong tinggi. Diperlukan upaya edukasi gizi secara berkelanjutan melalui sekolah dan keluarga untuk meningkatkan pengetahuan serta mendorong perilaku konsumsi pangan yang lebih sehat pada remaja.