Abstract

Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah dunia (WHO) Badan Kesehatan Dunia memperkirakan tingkat kejadian stunting pada anak balita di seluruh dunia pada tahun 2020 mencapai 22% yaitu sekitar 149,2 juta. Tingkat stunting tercatat sebesar 30,8%. Sedangkan Stunting adalah salah satu isu yang menjadi perhatian utama dalam penanganan masalah gizi anak usia dini di Indonesia. Asupan nutrisi menjadi salah satu faktor yang secara langsung memengaruhi keadaan gizi pada anak balita. Zat gizi makro adalah salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting untuk mendukung kesehatan balita, di mana makanan berfungsi secara signifikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak.


Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengalisis hubungan tingkat konsumsi zat gizi makro dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Sepa.


Bahan dan Metode: penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian Di Posyandu Cengkih Desa Sepa, Wilayah Kerja Puskesmas Sepa Kabupaten Maluku Tengah. Populasi penelitian adalah Balita (balita stunting dan tidak stunting) dengan sampel berjumlah 83 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik accidental sampling.


Hasil Penelitian: menunjukkan prevalensi stunting sebesar 48,2%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan data nasional berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 yaitu 21,6%, serta lebih tinggi dari rata-rata Provinsi Maluku (26,1%). Analisis Chi-square terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan kejadian stunting (p=0,003) sedangkan tingkat konsumsi protein (P-value 0,104), lemak (P-value 0,231) dan karbohidrat (P-value 0,487) menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikat dengan kejadian stunting.